Makna Halal Bihalal

Makna Halal Bihalal Makna Halal Bihalal -Sudah menjadi tradisi bangsa Indonesia untuk mudik atau pulang ke kampong halaman untuk berlebaran dengan orang terdekat mereka baik orang tua, kerabat dan sanak family di tempat kelahirannya. Kebiasaan seperti ini memang tidak pernah terjadi pada masa Rasul atau para sahabaat dan ulama salaf, tapi bukan berarti perbuatan seperti ini dapat dikatakan sebagai perbuatan Bid’ah yang sesat karena bila kita memperhatikan inti dari mudik itu sendiri sebenarnya telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw yaitu dalam menyambung tali silaturrahim, oleh karena itu kegiatan Mudik tahunan ini dapat menjadi sebuah ibadah bila kita menjalankannya sesuai dengan yang dicontohkan oleh Agama.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat kita hendak mengadakan perjalanan jauh agar perjalanan tersebut bernilai ibadah, seperti:

Mempersiapkan bekal secara dhahir (perbekalan fisik selama perjalanan hingga kembali ke rumah), dan bathin (ketakwaan kepada Allah swt)

Niat, hendaknya ketika mudik diniatkan semata-mata karena Allah demi menyambung tali-silatur-Rahim dengan orang tua, sanak-famili, kerabat dan tetangga di kampung halaman

Berdo’a, yaitu memohon kepada Allah agar diberi keselamatan, keberkahan dan keberuntungan dunia-akherat. (Dalam lembaran ini kami telah mengutip beberapa do’a yang biasa di baca oleh Rasulullah saw dan para ulama saat hendak bepergian jauh)

Memperhatikan sholat lima waktu dari mulai perjalanan hingga kembali ke rumahnya, jangan menterlantarkan terlebih sampai meninggalkannya.

Menjauhi berbagai kemaksiatan selama dalam perjalanan, menjaga pandangan, pendengaran dan lisan

Tidak menyakiti orang lain, baik dengan perbuatan atau lisannya

Berusaha untuk membatu orang lain yang dalam kesulitan

Menghiasi lisannya dengan banyak berdzikir kepada Allah

Sejarah halal bihalal
Sejarah asal mula halal bihalal ada beberapa versi. Menurut sebuah sumber yang dekat dengan Keraton Surakarta, bahwa tradisi halal bihalal mula-mula dirintis oleh KGPAA Mangkunegara I, yang terkenal dengan sebutan Pangeran Sambernyawa. Dalam rangka menghemat waktu, tenaga, pikiran, dan biaya, maka setelah salat Idul Fitri diadakan pertemuan antara Raja dengan para punggawa dan prajurit secara serentak di balai istana. Semua punggawa dan prajurit dengan tertib melakukan sungkem kepada raja dan permaisuri.
Apa yang dilakukan oleh Pangeran Sambernyawa itu kemudian ditiru oleh organisasi-organisasi Islam, dengan istilah halal bihalal. Kemudian instansi-instansi pemerintah/swasta juga mengadakan halal bihalal, yang pesertanya meliputi warga masyarakat dari berbagai pemeluk agama.
Sampai pada tahap ini halal bihalal telah berfungsi sebagai media pertemuan dari segenap warga masyarakat. Dan dengan adanya acara saling memaafkan, maka hubungan antarmasyarakat menjadi lebih akrab dan penuh kekeluargaan.
Karena halal bihalal mempunyai efek yang positif bagi kerukunan dan keakraban warga masyarakat, maka tradisi halal bihalal perlu dilestarikan dan dikembangkan. Lebih-lebih pada akhir-akhir ini di negeri kita sering terjadi konflik sosial yang disebabkan karena pertentangan kepentingan.

Mungkin banyak diantara kita yg tidak bisa membedakan kedua kata tsb..
Walau kata-kata tsb lazim diucapkan apalagi pada hari-hari belakangan ini..
Khususnya ketika sehabis lebaran.. terutama pada suasana Halal Bi Halal..
Ada juga yg bilang Halal Bil Halal, tapai kayaknya yg benar: Halal Bi Halal.

Konon dari beberapa rujukan yg saya dapatkan..
Perbedaan Silaturrahmi dan Silaturrahim adalah:

Silaturrahim: dikhususkan untuk golongan yg berhubungan darah atau dari satu Rahim.
Misalnya hubungan antara abang, adik, kakak, ayah, ibu, nenek, kakek dsb yg ada hubungan darah.

Silaturrahmi: sebuah hubungan antar manusia dari berbagai suku bangsa..
Persahabatan kita di FBI bisa dipererat dengan Silaturrahmi, bukan Silaturrahim !
Walaupun ada anggapan Silaturrahim lebih tepat dan sangat Islami, tapi itu salah.

Dari sini pula diperoleh kesan bahwa halal bihalal bukan saja menuntut seseorang agar memaafkan orang lain, tetapi juga agar berbuat baik terhadap siapa pun.
Itulah landasan filosofis dari semua aktivitas manusia yang dituntut oleh al Quran, dan itu juga yang harus menjadi landasan filosofis bagi setiap yang melaksanakan halal bihalal. Hal tersebut sekaligus juga berarti bahwa hakikat yang dituju oleh acara halal bihalal tidak harus dibatasi waktunya seuai Lebaran Iedul Fithri, tetapi setiap saat serta menyangkut segala aktivitas manusia.
Walaupun memang harus diakui bahwa acara maaf memaafkan dan silaturahim itu sangat sesuai dengan hakikat Iedul Fithri.
Kullu aamin wa antum bikhoirin,
(Semoga sepanjang tahun kalian berada dalam kebaikan)
Taqobbalallahu minna wa minkum,
(Semoga Allah menerima ibadah Saya dan Anda)
Minal aaidin wal fa idzin,
(Dari suci kembali pada kesucian).
Mohon maaf lahir dan bathin…..
Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh.

Artikel ini berhubungan dengan :

artikel  Makna Halal Bihalal  ,  Makna Halal Bihalal  , contoh dakwah  Makna Halal Bihalal  , contoh dakwah islam  Makna Halal Bihalal  , dakwah, dakwah  Makna Halal Bihalal  , dakwah download, dakwah islam, dakwah islami, dakwah nabi muhammad  Makna Halal Bihalal  , hadist  Makna Halal Bihalal

TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGAN SOBAT

Artikel diatas ditulis oleh : Tim SumberKita.Com
Artikel diatas dilindungi oleh hak Cipta kami dari www. myfreecopyright.com. Jika ingin mengutip, harap memberikan link aktif dofollow ke URL diatas. Jika Tidak, anda akan diproses hukum oleh DMCA Takedown dan berakibat buruk pada blog saudara serta account saudara. Terima kasih atas Perhatian saudara serta Terima Kasih telah berkunjung di blog ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>