Belajar Memaksimalkan Peran dalam Perjuangan dari Ibnu Ummi Maktum

Diposting pada
Foto: Perjuangan Diponegoro

-Dalam mendermakan diri untuk perjuangan menegakkan Islam seorang muslim dituntut total dan maksimal. Namun dalam perjalanannya ada saja rintangan. Rintangan itu bisa berupa pemahaman yang salah terhadap salah satu prinsip perjuangan. Sebagian pihak berjuang seadanya dan seolah hanya memenuhi syarat saja. Dirinya beralasan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai kesanggupannya.

Ini adalah pemahaman yang salah terhadap ayat “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” Ayat Allah yang mulia ini dijadikan alasan untuk mendikotomi semangat dan daya juang seseorang dengan dalih,”kan berjuang itu sesuai kemampuan”. Harapan menjadi muslim yang total dalam perjuangan terhambat karena pemahaman yang salah dan pesimisme dalam mengarungi proses menuju tujuan.

Berjuang Sesuai Kemampuan

Allah berfirman

لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286)

Ayat ini menunjukan tentang kasih sayangnya Allah ta’ala kepada para makhluk -Nya, serta kebaikan yang diberikan pada mereka.

Ketika turut ayat sebelumnya,

وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ

“Dan jika kamu menampakkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (QS. Al-Baqarah: 284).

Ketika para sahabat mendengar ayat ini, mereka merasa berat karena segala yang terbetik dalam hati akan dihisab atau diperhitungkan. Namun, Allah tidaklah membebankan sesuatu kecuali sesuai dengan kemampuan hamba-Nya. Sedangkan sesuatu yang tidak mungkin manusia cegah seperti sesuatu yang terbetik dalam hati tentu tidak jadi beban baginya. Ini adalah bentuk cinta kasih Allah kepada hamba-Nya.

Jadi, ayat ini bukanlah dijadikan alasan untuk mencukupkan diri dalam beramal dan membatasi kemampuan seseorang. Justru ayat ini memberikan stimulan kepada kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalam meraih derajat keshalihah dan ketaqwaan di sisi Allah Ta’ala.

Bentuk kasih sayang Allah juga dituangkan pada hadits Rasulullah

عَنْ ابْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلى الله عليه وسلم فِيْمَا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ : فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ عَشْرَةَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ  ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَة ً “

Dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma, dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagaimana dia riwayatkan dari Rabbnya Yang Maha Suci dan Maha Tinggi : Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut : Siapa yang ingin melaksanakan kebaikan kemudian dia tidak mengamalkannya, maka dicatat disisi-Nya sebagai satu kebaikan penuh. Dan jika dia berniat melakukannya dan kemudian melaksanakannya maka Allah akan mencatatnya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat bahkan hingga kelipatan yang banyak. Dan jika dia berniat melaksanakan keburukan kemudian dia tidak melaksanakannya maka baginya satu kebaikan penuh, sedangkan jika dia berniat kemudian dia melaksanakannya Allah mencatatnya sebagai satu keburukan. (HR Bukhori Muslim)

Hadits ini pun semakin memberikan hasungan kepada kita sekalian untuk senantiasa beramal shalih. Tentunya dengan memenuhi syarat dalam beramal agar amalan yang dilakukan mendapatkan ridha-Nya. Dengan menghiasi kehidupan dengan keridhaan_Nya, maka langkah kita telah tepat menyusuri jalan menuju keshalihah.

Mereka Manusia Teladan

“Tapi, tubuhku cacat.”, “Tapi kemampuan finansialku kurang.”, “Tapi diriku lemah.”,dan beribu-ribu tapi lainnya. Nah, terkadang seorang muslim terbelenggu dengan anugerah yang Allah berikan berupa kekurangan. Padahal belum tentu kekurangan dalam pandangan manusia itu menghalanginya untuk menuju derajat ketaqwaan. Justru kebalikannya,kekurangan itu mengantarkannya kepada keistiqomahan dalam berislam.

Adalah salah seorang sahabat mulia yang mendapatkan ujian kebutaan sejak masa kecilnya. Namun, kekurangannya itu tidak menghalangi dirinya untuk beribadah dan berjuang di jalan Allah SWT. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Sejak kapan, engkau kehilangan penglihatan?”

 Ia menjawab, “Sejak kecil.” Maka Rasulullah SAW bersabda,

قال الله تبارك وتعالى: إذا ما أخذتُ كريمة عبدي لم أجِدْ له بها جزاءً إلا الجنة

“Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman, ‘Jika Aku mengambil penglihatan hamba-Ku, maka tidak ada balasan yang lebih pantas kecuali surga.” (HR Bukhari, Ahmad dan Tirmidzi).

Abdullah bin Ummi Maktum adalah sosok yang dimuliakan Rasulullah SAW. Karena dirinya menjadi Asbabun Nuzul surat Abasa ayat 1-16. Sayyid Qutub berkomentar tentang ayat tersebut, “Mengapa engkau bermuka masam di hadapannya? Barangkali orang buta ini bisa menjadi mercusuar di bumi yang dapat menerima cahaya dari langit.”

Loading...