Belajar Memaksimalkan Peran dalam Perjuangan dari Ibnu Ummi Maktum

Diposting pada

Pada kenyataannya, Abdullah bin Ummi Maktum, seorang fakir miskin lagi buta dapat menerima cahaya dari langit. Suatu hari dia mendatangi Rasulullah SAW, dan berkata, Wahai Rasulullah, rumahku sangat jauh dari masjid, dan aku tidak mempunyai penuntun dalam berjalan, maka apakah ada keringanan untukku (meninggalkan shalat jama’ah di masjid)?

Lalu Rasulullah SAW pun memberinya keringanan. Namun, tatkala dia telah berpaling, Nabi berkata kepadanya, Apakah engkau mendengar suara azan?

Dia menjawab, Ya.

Nabi SAW bersabda, Maka jawablah seruannya, karena aku tidak mendapatkan keringanan untukmu.” (Ditakhrij oleh Imam Ahmad dalam Al-Musnad: 3/23. Dan Ibnu Mâjah: Kitabul Masâjid, Bab At-taghlidh Fit Takhalluf ‘anil jamâ’ah, No. 792)

Lantas, Abdullah selalu datang shalat berjamaah di masjid di waktu cuaca dingin, di waktu panas, di kegelapan malam, tanpa seorang penunjuk jalan, dia meraba-raba di kegelapan, agar Allah menjadikan untuknya cahaya pada hari semua cahaya terputus bagi orang-orang yang berbuat dosa.

Kemuliaan shahabat ini juga terabadikan dalam hadits Rasul

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ” أَنَّ بِلَالًا كَانَ يُؤَذِّنُ بِلَيْلٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ “

“Sesungguhnya Bilal adzan pada waktu (sepertiga) malam. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Makan dan minumlah kalian sampai Ibnu Ummi Maktum adzan. Karena ia tidak akan adzan kecuali setelah terbitnya fajar shadiq (masuk waktu subuh).” (HR. Mutafaqun Alaih)

Tahukah kita, bagaimana Allah mewafatkan Abdullah? Ya,  Abdullah gugur sebagai syuhada pada perang Qadisiyah. Sebuah kekurangan dalam pandangan manusia tenyata menjadi sebuah pengantar kemuliaan baginya.

Contoh di zaman milenia dapat juga kita temukan pada seorang anak buta yang bertutur pada syaikh Fahd Al-Kandari. Ia justru bersyukur dengan kebutaannya, bahkan berdoa agar Allah tidak mengembalikan pandangannya.

Ketika ditanya, mengapa ia menolak bisa melihat, ia menjawab,

“Semoga ini bisa menjadi hujjahku di hadapan Allah di hari kiamat, sehingga Allah bisa meringankan siksaan atasku,” ia pun melanjutkan,“Saat aku berada di hadapan-Nya dan Dia bertanya padaku,’Apa yang kau lakukan dengan Al-Quran?’”Jawab anak itu dengan lugu.

Anak kecil ini menghafal Al-Quran walaupun Allah mencabut kenikmatan melihat. Namun, anak ini justru menjadikannya cambuk untuk menghafal Al-Quran. Keterbatasannya tidak menghalangi untuk meraih gelar ketaqwaan.

Jadi, untuk kita yang tidak diuji dengan hilangnya penghilatan  atau bagi saudara-saudara yang Allah uji dengan kekurangan, semua mempunyai kesempatan yang sama untuk menjadi shalih dan taqwa. Kasih sayang Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 286 seharusnya menjadi pendorong untuk menjadi lebih baik lagi. Usahakan semaksimal mungkin dalam beribadah, jadikan kekurangan justru menjadi senjata untuk meraih kesuksesan, kesuksesan menjadi orang yang shalih dan bertakwa. Bukan sebaliknya, kekurangan membuat kita minder, tidak mau berkembang dan pada ujungnya menggunakan dalih “Allah tidak tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” sebagai alasan untuk melarikan diri dari usaha maksimal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Wallahu a’lam bi shawab.

Penulis: Dhani El_Ashim
Editor: Arju

 

Sumber: https://www.kiblat.net/2018/08/25/belajar-memaksimalkan-peran-dalam-perjuangan-dari-ibnu-ummi-maktum/

Loading...